Rabu, 11 Juli 2012

Batik Tulis Lasem Kabupaten Rembang


SEJARAH SINGKAT BATIK TULIS LASEM
 Untuk melacak sejarah batik Lasem sangat sulit dilakukan karena ahli-ahli sejarah yang menelaah batik Lasem sangat langka. Salah satu sumber sejarah yang menyebutkan tentang awal mula dilakukan pembatikan di Lasem adalah Serat Badra Santi[1], yang menyebutkan bahwa pada tahun 1335 Saka (1413 Masehi), salah seorang nakhoda dari armada laut Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un mendarat bersama istrinya yang bernama Na Li Ni di pantai Regol Kadipaten Lasem yang sekarang disebut sebagai pantai Binangun. Bi Nang Un adalah seorang nakhoda yang berasal dari Campa  (Indocina) yang saat itu menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Ming.
Na Li Ni adalah seorang wanita yang memiliki bakat seni terutama seni tari dan seni batik. Ketika  Putri Na Li Ni memulai kehidupannya di Lasem, ia melihat sebagian besar masyarakat Lasem hidup dalam

kondisi yang memprihatinkan dan miskin. Na Li Ni berupaya memperbaiki kehidupan masyarakat dengan cara mengajarkan seni membatik dan seni tari kepada putra-putrinya serta para gadis di Taman Banjar Mlati Kemadhung. Putri Na Li Ni juga mulai mengembangkan seni batik dengan metode dan motif yang lebih bervariasi, dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Lasem. Dalam perkembangan kemudian, masyarakat Lasem terutama masyarakat keturunan Cina banyak yang menjadi pengusaha batik.
[1]Serat Badra Santi dari Mpu Santi Badra yang ditulis pada tahun 1479 Masehi dan diterjemakan oleh U.P Ramadharma S. Reksowardojo pada tahun 1966



CIRI KHAS BATIK TULIS LASEM
Batik Lasem karena dirintis dan dikembangkan oleh masyarakat keturunan Cina, maka motif dan warnanya dipengaruhi oleh motif dan warna yang  khas budaya Cina, yaitu merah, putih, biru, dan hijau. Sebenarnya ada beberapa daerah yang memproduksi batik yang dipengaruhi oleh motif dan warna-warna khas Cina, seperti batik Pekalongan, batik Cirebon, dan lain sebagainya,  namun batik-batik  dari daerah-daerah tersebut berbeda dari batik Lasem. 
Ciri khas batik Lasem adalah warna merah yang menyerupai warna darah. Warna merah khas batik Lasem disebut dengan abang getih pithik (merah darah ayam). Warna abang getih pithik ini dihasilkan dari pewarna alam yaitu dari warna akar pohon mengkudu (pace). Warna merah yang khas ini telah menarik minat pembatik dari daerah-daerah lain untuk melakukan proses pewarnaan  atau pencelupan  untuk warna tersebut di Lasem. Bahkan ada batik yang terkenal dengan Batik Tiga Negeri, yang proses pewarnaannya dilakukan di tiga daerah yaitu untuk proses pewarnaan sogan dilakukan di Solo, proses pewarnaan merah di Lasem dan proses pewarnaan biru dilakukan di Pekalongan.
Kekhasan batik Lasem yang lain adalah pada penamaan desain batik (Batiks design), yang mengacu pada tata warna pada batik tersebut, misalnya motif  Bang-bangan (dari kata Jawa: abang yang artinya merah), yaitu batik dengan latar/ dasar putih dengan ragam hias merah atau
sebaliknya, Kelengan (dari kata Jawa: keleng yang artinya hitam atau kehitaman, Bang biru (dari kata Jawa: abang dan biru), Bang-biru-ijo (dari kata Jawa: abang, biru, ijo, yang artinya merah, biru, dan hijau


BORDIR DAN KONVEKSI SEDAN

Sentra industri bordir dan konveksi terletak di Kecamatan Sedan, Sulang, Sluke, Lasem, dan Rembang. Dari sekitar 92 home industri bordir & konveksi yang ada di seluruh Rembang, telah mampu merekrut tenaga kerja ± 363 orang dengan Kapasitas produksi ± 31.010 stel/bulan. Berdasarkan data terakhir, jumlah jenis produksinya (antara lain kerudung, ilbab dan busana dengan berbagai motivnya) telah mencapai ratusan lebih. Kualitas bordir Sedan telah cukup terkenal dan telah mampu menembus pasar Surabaya, Kudus, Semarang dan Solo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar